"TERIMA KASIH" Anda telah memasuki Website Media Suara Online Terkini "SOT Jepara" Sebelum anda membaca semua berita yang telah kami rangkum sebelumnya kami akan jelaskan mengenai SOT Jepara ok... Suara Online Terkini adalah Media Online yang mampu menampung berbagai macam berita diantaranya Seputar Nasional, Metropolitan, Daerah, Ekonomi, Bisnis, Internasional, Sosial, Budaya, Agama, Pendidikan, Politik, Hukum, Kesehatan dll kami terima kritik dan saran melalui kontak kami.atau Hub: 085-229-333-371 Pin BB:7473F04F.
Headlines News :
Home » » Cerita Lengo Tolo Rahtawu di Bulan Suro

Cerita Lengo Tolo Rahtawu di Bulan Suro

Written By suaraonline terkini on Selasa, 12 November 2013 | 11.53

Werkudara langsung meraih leher Sengkuni, lalu dihimpitnya dengan lengannya kuat kuat, sehingga lehernya tercekik, dan mulutnya pun membuka lebar kehabisan napas. Werkudara memasukkan kuku Pancanaka kedalam mulut Sengkuni karena Sengkuni tidak meminum lengo tolo,maka dengan mudah dirobek robeknya sampai kedalam leher dan menembus ke jantungnya.
Hal tersebut diceritakan oleh Sono Karmadi, juru kunci makam Eyang Loko Joyo, di kawasan Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, saat ditemui Koran Muria, Senin (4/11). Sono mengatakan, ketika itu Sengkuni masih hidup. ”Sengkuni mengerang kesakitan. Werkudara menjadi ngeri dan ketakutan. Walaupun sudah luka berat, Sengkuni tidak mati-mati,” katanya.
Lalu Prabu Kresna meminta Werkudara bisa menyempurnakan kematiannya. Werkudara akhirnya mengerti keadaan ini, dikarenakan kesaktian lengo tolo atau minyak tolo, yang dioleskan kesekujur tubuh Sengkuni. Setelah terkelupas kulitnya, akhirnya Sengkuni pun gugur.
Tersebut adalah cerita klasik yang beredar di masyarakat. Ini juga yang mewarnai suasana Suranan di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, yang ramai oleh pendatang. Banyaknya punden atau petilasan pertapaan tokoh-tokoh pewayangan yang konon melarikan diri di sana, menjadi magnet tersendiri kedatangan mereka.
Cerita yang lain datang dari pengunjung yang bekerja di Jakarta sebagai mandor bangunan. Ia mendengar dari kawannya di Kudus bahwa Eyang Lokojoyo yang tak lain adalah nama muda dari Sunan Kalijaga. Dia berbadan kekar dan kuat, sehingga berhadap mempunyai kondisi fisik demikian.
Tampak pelat nomor kendaraan roda empat dari pengunjung luar daerah berasal dari Semarang, Jakarta, Purwokerto, Blora, Rembang, dan Jepara. Dari jalan menuju Rahtawu juga terlihat pengunjung yang berjalan kaki, bahkan ada yang mengajak anaknya. Ritualnya beraneka ragam. Di sungai Rahtawu pengunjung mandi, bahkan menjelang petang sebagian pengunjung mandi dalam keadaan bugil di pinggir sungai sebelum beranjak ke petilasan.
Mbah Sono mengatakan, di Rahtawu terdapat banyak petilasan tokoh yang dikeramatkan sampai di Puncak 29. Di antaranya petilasan Eyang Sakri, Eyang Lokajoyo, Eyang Abiyoso, dan sumber air Bunton yang berada di bawah Puncak 29. Bunton adalah mata air terbesar di Desa Rahtawu, jaraknya 7 kilometer dari balai desa setempat.
”Pada malam 1 Suro, mata air Bunton mengeluarkan lengo tolo yang bentuknya air bekas mencuci beras sebelum ditanak. Minyak ini atau lengo tolo dipercaya digunakan azimat kekebalan. Sebetulnya lengo tolo bisa keluar pada hari-hari tertentu,” kata Mbah Sono.
Mbah Sono juga membenarkan pendapat itu bahwa lengo tolo banyak diburu oleh pengunjung. Tetapi anehnya, orang yang memburu kerapkali tidak mendapatkan, sementara orang yang tidak berniat memburu malah mendapatkan.
Selain itu Giri Kalong, salah seorang perwakilan pemuda yang menjaga tiket masuk, mengatakan pengunjung tahun ini diperkirakan mencapai 10.000 lebih. Karena pada tahun kemarin sebesar 6.000 pengunjung dilihat dari jumlah tiket yang dijual. ”Baru dua hari ini saja tiket sudah terjual 3.500 tiket. Kita tarif per orang 2 ribu dan untuk mobil 3.000,” kata Giri.
Seorang pengunjung bernama Mustaqim, dari Demak, mengatakan mendatangi Rahtawu pada malam 1 Sura sejak tahun 1990. Mustaqim yang datang sendirian di petilasan Eyang Lokojoyo mengaku berdoa di tempat tersebut, untuk keselamatan keluarga dan kelancaran dagang yang dilakoni. ”Saya berharap adanya hidup yang lebih baik,” ujarnya.
Menurut Dosen Psikologi Universitas Muria Kudus M Widjanarko, warga yang hadir mempunyai ikatan psikologi terhadap petilasan yang ada. Sehingga ketika mereka datang akan menuju petilasan yang mempunyai makna personal. ”Seperti sebuah magnet, petilasan yang ada di Rahtawu menarik warga yang pernah mengunjunginya. Meski terpisahkan jarak yang jauh,” katanya.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Maz Kizin | Redaksi
Copyright © 2014. Suara Online Terkini - All Rights Reserved
Template Created by SOT Jepara Published by Maz Kizin
Proudly powered by SOT Jepara