"TERIMA KASIH" Anda telah memasuki Website Media Suara Online Terkini "SOT Jepara" Sebelum anda membaca semua berita yang telah kami rangkum sebelumnya kami akan jelaskan mengenai SOT Jepara ok... Suara Online Terkini adalah Media Online yang mampu menampung berbagai macam berita diantaranya Seputar Nasional, Metropolitan, Daerah, Ekonomi, Bisnis, Internasional, Sosial, Budaya, Agama, Pendidikan, Politik, Hukum, Kesehatan dll kami terima kritik dan saran melalui kontak kami.atau Hub: 085-229-333-371 Pin BB:7473F04F.
Headlines News :
Home » » Peluncuran Buku Puisi “MEMBACA JEPARA” jilid-2

Peluncuran Buku Puisi “MEMBACA JEPARA” jilid-2

Written By Unknown on Kamis, 03 November 2016 | 14.51

Didid Endro S, saat Pembacaan Puisi “ Adipura dan Tiga Putri ”
JEPARA - suaraonlineterkini.com -  karya sang inisiator sekaligus Koordinator penerbitan buku puisi “Membaca Jepara”, Didid Endro S. Puisi tersebut mengungkapkan kegelisahannya terhadap pembuatan patung tiga putri di Bundaran Ngabul.  dengan Judul “Adipura dan Tiga Putri” berikut isinya:

Selarik luka

Memerah pada ruang

Tak terukur seberapa dalamnya

Siapa berulah di bundaran

Adipura tergusur roboh terjungkal

Bercucuran keringat jepara

Tersengal nafas berkejaran

Menangkapi  tulang belulang

Berserakan di pintu pintu gerbang

Di pinggir jalan dan selokan

Adipura  roboh terjungkal

Berganti wajah lepas dari akal

Patung tiga putri

Satu ganjalan membuang arti

Kartini sang pahlawan emansipasi

Kalinyamat catatan sejarah harus diingat

Ratu shima di mana kau berada

Wajah tanpa rupa tangkapan metafisika

Bagaimana bisa terlogika

Tanpa wujud yang bisa terbaca

Selarik luka makin menganga

Bundaran ngabul menyimpan cerita

Kepentingan proyek berkedok budaya

Berjuta mata terkelabuhi

Tak satupun hati hendak mengkaji

Hasil meditasi diamini

Adipura tak lagi punya arti

Kerja keras dan perjuangan tersakiti

Demi gengsi dan ambisi


Selain menumbangkan tugu Adipura sebagai bukti perjuangan seluruh masyarakat Jepara, pembuatan patung wajah Ratu Shima diambil dari hasil meditasi tokoh spiritual.  Maka dibacakanlah puisi tersebut ketika ia membuka acara malam Penganugerahan Pemenang Lomba Baca Puisi Kreatif ke-5 dan Peluncuran buku puisi “Membaca Jepara” jilid-2 di halaman sanggar Gaperto Art Community (GAC) Mlonggo miliknya.

 Dalam pengantarnya, Didid menyampaikan bahwa, puisi adalah salah satu karya kesusasteraan dan sastra merupakan anak kandung dari kebudayaan. Dengan demikian, karya puisi sudah barang tentu tidak bisa terlepas dari latar belakang kebudayaan masing-masing penulisnya. Meskipun berada dalam satu wilayah geografis yang sama, akan tetapi masing-masing individu memiliki pengalaman spiritual yang berbeda.

 Keanekaragaman pengalaman spiritual tersebut, lanjutnya,  memerlukan wadah penuangan agar kesaksian tidak terbuang sia-sia bahkan kehilangan makna.

“Kita ini kan dipaksa masuk dalam ruang ambiguitas (ketidaktentuan) yang berdampak pada kecenderungan untuk bersikap apatis terhadap persoalan di sekitar, dan plin plan. Dampaknya tidak sekedar menyodorkan masa depan yang buruk, tetapi meninggalkan jejak frustasi atas perusakan dan pemberangusan martabat kemanusiaan. Di mana peristiwa ini sangat membutuhkan pertanggungjawaban melalui ungkapan kebenaran sejarah serta pengakuan-pengakuan kemanusiaan secara tuntas sebelum terkubur oleh tumpukan pesta-pesta fiktif”, paparnya.

 Melalui karya puisi yang terangkum dalam Buku Puisi “Membaca Jepara” jilid 2 ini, diharapkan dapat dilihat, bahwa di kota ini masih banyak menyimpan potensi yang dapat digali dan dikaji, bahkan sebagai bentuk pelurusan tentang kebenaran sejarah atas pemberangusan martabat kemanusiaan. Karena puisi bukanlah sekedar catatan buku harian, tetapi ungkapan kejujuran yang berlandaskan pada moral kebudayaan. Sehingga kesadaran-kesadaran atas hutang kebenaran yang belum terbayar kepada publik, akan terbuka dan dipertanggungjawabkan serta duakui sebagai sebuah kejahatan kemanusiaan.

 “Inilah salah satu cara mencegah kealpaan sejarah, membutakan mata serta membebaskan diri dari kedangkalan pikir yang sulit disuarakan. Apalagi, mengungkap kebenaran bukanlah dendam. Mengungkap kebenaran juga bukan sebuah kejahatan. Melainkan sebuah sikap tidak ingin remuk berkepanjangan. Saatnya bangkit bersama dengan mengingat segala peristiwa, karena mengingat merupakan jalan menuju kehidupan yang lebih baik”, tandasnya.

 Selanjutnya, Art and Theatre Director GAC ini menyampaikan bahwa buku puisi “Membaca Jepara” jilid-2 ini adalah perwujudan dari cita-citanya sebagai aktifis kesenian. Ia berkeinginan bisa menerbitkan satu buku setiap tahun untuk Jepara.

 Dalam buku ini, setidaknya ada 152 puisi yang terangkum dari 29 penulis. Artinya, ada 152 pemikiran dan penilaian terhadap kondisi dan potensi yang ada di Jepara. Selain para penulis dalam buku tersebut, hadir pula para seniman Jepara serta beberapa penyair dari berbagi kota yakni, Tegal, Purwokerto, Semarang, Ngawi, Surakarta, Kudus, Pati, Magelang, Tulungagung, Ambarawa, Kendal, dan Jakarta.(RIZ).

Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Maz Kizin | Redaksi
Copyright © 2014. Suara Online Terkini - All Rights Reserved
Template Created by SOT Jepara Published by Maz Kizin
Proudly powered by SOT Jepara